Sengaja saya duduk terpisah dengan rifa'i untuk mengindari kemungkinan terjadinya perselisihan susulan. saya duduk didepan, sementara dia dibagian paling belakang bersama dua penumpang lainnya. sambil menunggu penumpang lain, sayapun diminta calo untuk membayar dimuka. tak ingin berpusing-pusing dan beredebat lagi langsung saya berikan uang 200 ribu rupiah kepada calo tersebut. meskipun saya tahu hanya kami berdua yang dimintakan ongkos terlebih dahulu. saya tidak ingin membuat perjalanan saya bertambah kacau lagi meskipun rasa kesal saya belum juga hilang.
matahari tepat diatas kepala ketika "travel" kijang innova meninggalkan terminal daya, makassar.
menyusuri jalan raya poros makassar - maros - Pare-pare yang sedang dalam pengerjaan pelebaran dan peninggian jalan hingga sering kali ruas jalan yang seharusnya digunakan untuk satu arah dipaksa menjadi dua arah. debu dan pasir material yang beterbangan memaksa masuk kedalam kendaraan "travel" yang tak ber-AC. dalam keadaan begini, sang sopir terus memacu pedal gas dan terus berusaha menyalip kendaraan didepannya meskipun harus menggunakan lajur berlawanan yang cukup padat. ulah sang sopir yang mengendarai kendaraan terlampau "lihai" bahkan seringkali hampir lepas kendali hingga tak sedikit pengguna jalan lain yang terlihat jelas mengumpat dan mengepalkan tangan kearah kami.
Hey, ini bukanlah travel biasa seperti layaknya travel di pulau jawa yang memperhatikan kenyamanan dan keamanan penumpangnya. saya menganggap travel ini adalah angkot antar kota yang dibaluti oleh nama beken kijang "innova". tapi anehnya tidak satupun penumpang yang mengeluhkan "keahlian" sang sopir. apa memang semua travel seperti ini? tetapi jika saya perhatikan travel lain yang melintas meskipun kencang, tetapi tidak kesetanan seperti yang saya tumpangi.
OOps.. cukup sudah penderitaan saya hari ini, biarlah nyawa ini saya serahkan kepada Tuhan dan sang sopir. apapun yang terjadi nantinya, akan saya nikmati sisa perjalanan ini. sementara travel dengan kecepatan diatas 100 km/jam terus melaju diantara debu dan pasir yang berterbangan melintasi pesisir rawa-rawa dan rumah-rumah penduduk berbentuk rumah panggung. bukit2 hijau berbatu tampak gagah menghadang jalan kami dikejauhan. hingga akhirnya mata saya tidak kuat lagi menahan kantuk...
BRAKKKK!! tubuh saya hampir jatuh menyentuh aspal. kantong plastik berisikan makanan yang saya selipkan disisi pintu terjatuh, tercecer dijalanan. saya masih setengah tersadar dari tidur ketika sang sopir membuka pintu disamping saya dan mengatakan sesuatu kepada saya.
"Maaf mas, geser sedikit ke kanan. ada penumpang". saya masih memulihkan kesadaran ketika sesosok ibu bertubuh gemuk dengan membawa tas besar dan sebuah keranjang kue menghampiri saya dan duduk menjempit saya diantara tubuhnya dan tempat perseneling. WHATTS!!??? apa-apaan ini, dalam sejarah kehidupan saya belum pernah saya tahu yang namanya trayek antar kota bisa menaikkan dua penumpang dikursi depan. terlebih menggunakan kijang innova. saya sempat sewot sambil menoleh kebagian belakang untuk mempertanyakan kenapa tidak naik saja dibelakang, dan ternyata dibelakang sudah terisi tujuh orang. sayapun tidak bisa berkata-kata lagi, pasrah dan berkata dalam hati, "puas ya loh Rifa'i!!".
2 jam saya berjuang dalam penderitaan ini. badan saya sudah remuk. seindah apapun pemandangan yang didepan mata tetap tak bisa menghibur saya yang sudah keram disekujur tubuh. saya sudah tidak berdaya lagi menahan "kekuatan besar" si ibu disebelah saya. ketika akhirnya beliau turun didesa kecil selepas kota pare-pare. wuahh...lega rasanya, seakan menyelam didasar air menahan nafas bermenit-menit lamanya dan akhirnya bisa kembali ke permukaan dan bernafas kembali. tetapi, oh tidak...!!! dihadapan saya, di depan sana kembali seorang wanita mengulurkan tangannya isyarat akan menumpang di kendaraan ini. dan berarti saya harus berbagi kursi lagi. Ah...waktunya menyelam kembali jier...
Syukurlah, wanita muda ini cukup langsing sehingga saya masih bisa leluasa duduk meskipun masih saja terasa sempit. hari semakin sore ketika kendaraan kami mulai melintasi hutan dan perbukitan hingga tiba disebuah desa kecil seorang kakek berusaha menghentikan kendaraan kami. entah sang sopir berbicara apa kepada si kakek sambil memperlambat laju kendaraan namun masih berjalan hingga akhirnya kembali memacu kembali pedal gasnya. lima puluh meter meninggalkan kakek tua, kendaraan tiba-tiba berhenti. sopir travel turun dari mobil, entah apa yang dilakukannya. sementara kami menunggu dan menerka apa yang terjadi. dan tiba-tiba seorang kakek tua yang berusaha menghentikan mobil tadi sudah berada dipintu sopir. saya tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan dan seketika kakek tadi naik dibangku sopir yang disusul oleh si sopir tadi.
saya tersenyum sendiri. sekarang saya duduk berempat dibagian kursi depan kijang innova bersama wanita muda langsing dan sopir yang berbagi bangku dengan si kakek. tidak ada yang protes dari para penumpang. sementara saya ragu untuk menegur sopir takut kalau keadaan ini sesuatu yang wajar terjadi disini. mereka hanya tersenyum dan berbicara dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. ini benar2 gila pikirku. mereka dapat tersenyum, bahkan sang kakek "ajaib" sempat-sempatnya bersenda gurau dengan sopir sementara kendaraan dengan kecepatan tinggi terus melintasi hutan dan gunung yang berliku dengan maut yang siap mengancam. beberapa kali sang sopir kesulitan ketika berusaha ganti perseneling ketika menghadapi tanjakan curam.
pesona dan eksotisnya gunung nona di kabupaten enrekang yang kesohor tidak menarik perhatian saya. semua terkalahkan oleh apa yang terjadi didalam kendaraan ini. bersebelas didalam sebuah kijang innova menempuh ratusan kilometer. saya seakan mati rasa. entah kaki saya dimana, badan saya juga dimana, beradu lengan dengan kakek karena memang setengah tubuh kami tidak berpenyangga. sementara paha kanan saya sebisa mungkin saya pertahankan agar tidak terlalu menekan batang perseneling yang bisa berakibat fatal...
sungguh, sebuah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.
Selasa, 18 Agustus 2009
Minggu, 09 Agustus 2009
SOUTH SULAWESI ON TRIP 07 AGUSTUS s.d. ?? (bag.2 Dilema Toraja)
Syukurlah petugas bandara yang mengantar kami belum pergi. dia menunggu di luar terminal. rupanya dia memastikan apakah kami bisa berangkat ke toraja atau tidak karena sudah tidak ada angkutan kota di malam selarut ini. dia khawatir akan terjadi sesuatu pada kami. hingga akhirnya kembali kami diantar mencari penginapan terdekat.
penyesalan saya, saya tidak sempat menanyakan namanya. tetapi saya berdoa untuk kebaikannya.
jam 23.30 wita, saya check-in di hotel Transito Mandai di daerah Maros. tubuh saya sudah letih, mata saya sayu, belum lagi rasa lapar yang kian mendera. namun, lagi-lagi saya tertahan tidak dapat langsung beristirahat. di hotel ini sedang ada razia yang dilakukan oleh kepolisian setempat. beberapa wartawan terlihat ikut bersama mereka, mendokumentasikan para penghuni kamar setelah diperiksa identitasnya terlebih dahulu. dengan dalih datangnya bulan Ramadhan mereka melakukan razia ini. atau mungkin terkait dengan perburuan Noordin M.Top, dalang pengeboman di berbagai tempat di Indonesia dan yang terakhir di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton sehubungan dengan janji kapolri akan meringkus teroris nomor satu tersebut sebelum 17 agustus. dengan terpaksa, saya harus menunggu di depan receptionist menanti prosesi razia selesai. sementara satu persatu kamar diketok, digeledah, diinterogasi dan difoto. uh, sampai kapan saya harus menunggu.
hampir 30 menit saya menunggu sambil terkantuk-kantuk dengan rasa jengkel yang belum hilang atas perselisihan saya dengan Rifa'i karena kejadian yang baru saja kami alami. namun razia di hotel ini belum juga selesai. mengerti akan kondisi kami, pimpinan operasi razia akhirnya mempersilahkan pelayan hotel untuk mengantar kami masuk ke kamar setelah menanyakan asal kedatangan kami. untunglah tidak ada interogasi dan pengambilan gambar. setidaknya kami tidak perlu menunggu waktu lagi untuk dapat beristirahat.
keesokan harinya, air asia memberi kabar bahwa penerbangan ke jakarta mundur hampir 2 jam yang berarti tiba di jakarta sekitar jam 00.00 wib. saya dan rifa'i kembali berselisih pendapat. saya tidak ingin memaksakan harus ke toraja dalam waktu sesingkat ini setelah gagal mendapatkan bis semalam. perjalanan ke toraja yang membutuhkan waktu paling cepat 8 jam tidak memungkinkan buat menjelajah tana toraja yang cukup luas. "Pay, kalo kita nekat pergi pagi ini paling cepet tiba di toraja sore hari. lantas apa yang mau dinikmati sore-sore disana sementara besok pagi kita sudah harus kembali ke makassar untuk mengejar pesawat malam harinya ke jakarta? gw nggak mau mengorbankan waktu yang berharga ini hanya untuk ngikutin kemauan loe yang nggak masuk akal. gw gagal ke bantimurung, nggak bisa keliling makassar,hanya capek doang di toraja".
perdebatan masih terus berlangsung, bahkan setelah kami check-out dari penginapan. tidak tahu harus pergi kemana, kami hanya berdiri di depan penginapan di pinggir jalan poros maros - makassar. sebenarnya saya juga ingin sekali pergi ke tana toraja tepatnya ke rantepao. tetapi tidak dengan waktu sesingkat seperti ini.
"Pay, oke.. kita pergi ke toraja tetapi dengan catatan tiket balik diundur hari rabu. gw ambil cuti 3 hari. itupun kalau air asia tidak membebankan selisih harga.tetapi kalo dibebankan biaya lagi, gw nggak mau. lebih baik kita pisah tujuan. terserah loe mau kemana, kalau gw seperti rencana semula, pergi bantimurung sesudah itu bermalam di sekitar pantai Losari makassar". kemudian saya menelpon kantor pusat air asia di jakarta untuk me-retime kepulangan saya. dan perubahan jadwal saya disetujui. sebenarnya dalam keadaan normal, jika ingin merubah jadwal penerbangan dan ada selisih harga, maka kita harus membayar selisih harga ditambah biaya perubahan jadwal. tetapi karena adanya pemberitahuan delay dari pihak air asia, terlebih tiba di jakarta dini hari, saya tidak dikenakan biaya tambahan. kini giliran rifa'i yang panik, setelah saya menyetujui permintaannya. karena dengan menunda kepulangan saya, maka kami harus berpisah esok hari. saya masih menetap di toraja, sementara pagi-pagi sekali ia harus balik ke makassar, kembali ke jakarta malam harinya.
diterminal daya, tempat yang kami datangi semalam, suasananya berbeda 180 derajat. begitu turun dari "pete-pete", sebutan angkutan kota di daerah ini, kami langsung dikerubuti puluhan calo yang menanyakan tujuan kami. pemandangan yang mewarnai hampir disetiap terminal luar kota negeri ini. dengan perangai yang buruk, menarik-narik tas bawaan kami setengah memaksa harus ikut dengan mereka. saya tidak memperdulikan mereka, terus berjalan kedalam terminal sambil mempertahankan tas bawaan saya. setiba diruang tunggu, "pay, tunggu disini dulu. gw cari loket bis yang ke toraja".
saya masih didepan loket penjualan tiket bis Litha. ketika hendak memesan tempat duduk yang tinggal tersisa beberapa kursi lagi, tiba-tiba rifa'i menelpon saya dan memberitahukan bahwa ia ditawari calo terminal naik kijang inova dengan membayar 100 ribu perorang. awalnya saya menolak, sebelumnya saya sudah ditawari terlebih dahulu oleh calo tersebut. tidak jelas kapan akan berangkat karena baru ada 2 penumpang didalam inova tersebut dan sekarang sudah jam 10.30 siang, sementara bus Litha berangkat jam 13.00 dan lebih murah 30 ribu rupiah. jika berangkat dari makassar jam 13.00, paling cepat tiba di toraja jam 20.00. sementara "travel" inova tidak ada kepastian berangkat. kembali terjadi perdebatan diantara kami. lagi dan lagi akhirnya saya mengalah. biarlah saya menurut kemauannya, tidak ada ruginya bagi saya. kamipun menunggu "travel" penuh, entah sampai berapa lama. biarlah rifa'i senang atas keputusan ini. atau merasa bersalah, saya tidak tahu...
penyesalan saya, saya tidak sempat menanyakan namanya. tetapi saya berdoa untuk kebaikannya.
jam 23.30 wita, saya check-in di hotel Transito Mandai di daerah Maros. tubuh saya sudah letih, mata saya sayu, belum lagi rasa lapar yang kian mendera. namun, lagi-lagi saya tertahan tidak dapat langsung beristirahat. di hotel ini sedang ada razia yang dilakukan oleh kepolisian setempat. beberapa wartawan terlihat ikut bersama mereka, mendokumentasikan para penghuni kamar setelah diperiksa identitasnya terlebih dahulu. dengan dalih datangnya bulan Ramadhan mereka melakukan razia ini. atau mungkin terkait dengan perburuan Noordin M.Top, dalang pengeboman di berbagai tempat di Indonesia dan yang terakhir di hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton sehubungan dengan janji kapolri akan meringkus teroris nomor satu tersebut sebelum 17 agustus. dengan terpaksa, saya harus menunggu di depan receptionist menanti prosesi razia selesai. sementara satu persatu kamar diketok, digeledah, diinterogasi dan difoto. uh, sampai kapan saya harus menunggu.
hampir 30 menit saya menunggu sambil terkantuk-kantuk dengan rasa jengkel yang belum hilang atas perselisihan saya dengan Rifa'i karena kejadian yang baru saja kami alami. namun razia di hotel ini belum juga selesai. mengerti akan kondisi kami, pimpinan operasi razia akhirnya mempersilahkan pelayan hotel untuk mengantar kami masuk ke kamar setelah menanyakan asal kedatangan kami. untunglah tidak ada interogasi dan pengambilan gambar. setidaknya kami tidak perlu menunggu waktu lagi untuk dapat beristirahat.
keesokan harinya, air asia memberi kabar bahwa penerbangan ke jakarta mundur hampir 2 jam yang berarti tiba di jakarta sekitar jam 00.00 wib. saya dan rifa'i kembali berselisih pendapat. saya tidak ingin memaksakan harus ke toraja dalam waktu sesingkat ini setelah gagal mendapatkan bis semalam. perjalanan ke toraja yang membutuhkan waktu paling cepat 8 jam tidak memungkinkan buat menjelajah tana toraja yang cukup luas. "Pay, kalo kita nekat pergi pagi ini paling cepet tiba di toraja sore hari. lantas apa yang mau dinikmati sore-sore disana sementara besok pagi kita sudah harus kembali ke makassar untuk mengejar pesawat malam harinya ke jakarta? gw nggak mau mengorbankan waktu yang berharga ini hanya untuk ngikutin kemauan loe yang nggak masuk akal. gw gagal ke bantimurung, nggak bisa keliling makassar,hanya capek doang di toraja".
perdebatan masih terus berlangsung, bahkan setelah kami check-out dari penginapan. tidak tahu harus pergi kemana, kami hanya berdiri di depan penginapan di pinggir jalan poros maros - makassar. sebenarnya saya juga ingin sekali pergi ke tana toraja tepatnya ke rantepao. tetapi tidak dengan waktu sesingkat seperti ini.
"Pay, oke.. kita pergi ke toraja tetapi dengan catatan tiket balik diundur hari rabu. gw ambil cuti 3 hari. itupun kalau air asia tidak membebankan selisih harga.tetapi kalo dibebankan biaya lagi, gw nggak mau. lebih baik kita pisah tujuan. terserah loe mau kemana, kalau gw seperti rencana semula, pergi bantimurung sesudah itu bermalam di sekitar pantai Losari makassar". kemudian saya menelpon kantor pusat air asia di jakarta untuk me-retime kepulangan saya. dan perubahan jadwal saya disetujui. sebenarnya dalam keadaan normal, jika ingin merubah jadwal penerbangan dan ada selisih harga, maka kita harus membayar selisih harga ditambah biaya perubahan jadwal. tetapi karena adanya pemberitahuan delay dari pihak air asia, terlebih tiba di jakarta dini hari, saya tidak dikenakan biaya tambahan. kini giliran rifa'i yang panik, setelah saya menyetujui permintaannya. karena dengan menunda kepulangan saya, maka kami harus berpisah esok hari. saya masih menetap di toraja, sementara pagi-pagi sekali ia harus balik ke makassar, kembali ke jakarta malam harinya.
diterminal daya, tempat yang kami datangi semalam, suasananya berbeda 180 derajat. begitu turun dari "pete-pete", sebutan angkutan kota di daerah ini, kami langsung dikerubuti puluhan calo yang menanyakan tujuan kami. pemandangan yang mewarnai hampir disetiap terminal luar kota negeri ini. dengan perangai yang buruk, menarik-narik tas bawaan kami setengah memaksa harus ikut dengan mereka. saya tidak memperdulikan mereka, terus berjalan kedalam terminal sambil mempertahankan tas bawaan saya. setiba diruang tunggu, "pay, tunggu disini dulu. gw cari loket bis yang ke toraja".
saya masih didepan loket penjualan tiket bis Litha. ketika hendak memesan tempat duduk yang tinggal tersisa beberapa kursi lagi, tiba-tiba rifa'i menelpon saya dan memberitahukan bahwa ia ditawari calo terminal naik kijang inova dengan membayar 100 ribu perorang. awalnya saya menolak, sebelumnya saya sudah ditawari terlebih dahulu oleh calo tersebut. tidak jelas kapan akan berangkat karena baru ada 2 penumpang didalam inova tersebut dan sekarang sudah jam 10.30 siang, sementara bus Litha berangkat jam 13.00 dan lebih murah 30 ribu rupiah. jika berangkat dari makassar jam 13.00, paling cepat tiba di toraja jam 20.00. sementara "travel" inova tidak ada kepastian berangkat. kembali terjadi perdebatan diantara kami. lagi dan lagi akhirnya saya mengalah. biarlah saya menurut kemauannya, tidak ada ruginya bagi saya. kamipun menunggu "travel" penuh, entah sampai berapa lama. biarlah rifa'i senang atas keputusan ini. atau merasa bersalah, saya tidak tahu...
Langganan:
Postingan (Atom)
